Apa Kamu Masih Merasa Sendiri ?
Apa Kamu Masih Merasa Sendiri ?
Ini adalah sebuah cerita yang membuktikan kalau kita tidak pernah sendiri.
Senin, setelah upacara di sekolah aku masuk ke kalas bersama dengan teman-temanku. Siap untuk memulai pelajaran jam pertama yakni matematika. Pak agus memasuki kelas dengan semangatnya seperti biasa. Aku sudah siap dengan materi yang diajarkan walaupun aku belum paham. Tiba-tiba teleponku berdering. Aku lihat ibuku meneleponku,ku coba angkat .
“halo,ada apa ?” tanyaku pada ibu.
“nduk, ATM bapakmu ketinggalan. Tolong hubungi bapakmu ya.”
“iya.”
Ku tutup teleponnya, ku cari nomor bapakku dikontak,ketelepon bapakku.
“hallo bapak, ATM bapak ketinggalan”
“Astagfirullah, bapak sudah sampai di Solo. Kalau bapak kembali ke rumah bisa telat nanti kirim barangnya.”
“gimana pak, bapak bisa pinjam uang teman bapak mungkin ?”
“bapak nggak bisa pinjam uang ke teman,disini nggak ada teman bapak, lagi pula bapak butuh biaya banyak untuk ngirim barang ini. Nggak mungkin kalu pinjam orang.”
“yasudah, ATM nya biar saya yang antar ke Solo.”
“kamu berani ta nduk ?”
“in syaa Allah berani,bapak.”
Setelah itu aku langsung berpamitan kepada pak Agus untuk keluar kelas. Mulai ku urus surat izinku dengan cepat tapi tidak terburu-buru. Agak sulit mengurus surat izinku ini karena memang alasanku yang kurang “mengena”. Akhirnya kudapatkan surat izinku, aku kembali ke kelas untuk mengambil barang-barang ku dan kemudian pulang ke rumah. Sampai dirumah ibuku kaget kenapa aku pulang.
Aku duduk kemudian aku menjelaskannya,ibuku sempat marah karena takut aku kenapa-kenapa. Maklum, seorang ibu pasti tidak tega ketika membiarkan anak perempuannya pergi dari Jombang ke Solo sendirian tanpa ada persiapan apapun. Ibu juga khawatir karena kondisi badanku yang kurang sehat. Tapi aku kuatkan tekat, ini bukan hanya masalah ATM yang ketinggalan, akan ada banyak runtutan maslah yang akan terjadi jika ATM ini tak sampai di tangan bapakku.
Ku kemasi barangku secukupnya, ku cium ibukku dan ku berpamitan padanya. Dalam perjalan ke terminal hatiku sempat takut dan ragu. Aku bingung harus naik bus yang mana,sepedaku titipkan dimana. Ada banyak ketakutan yang menghampiriku. Sampainya diterminal aku dibantu bapak-bapak untuk mengamankan sepedaku. Aku diberi arahan olehnya dimana aku harus naik bus. Kemudian aku berjalan ke halte yang jaraknya cukup jauh, aku belum makan juga pada saat itu. Tapi, rasanya lelah ini menjadi sebuah cambukkan bagiku, kalau ini adalah hal yang kecil, sangat memalukan jika sampai aku mengeluh.
Sampai di halte, aku dibantu lagi dengan bapak tukang becak. Beliau mencarikanku bus yang nyaman. Perjalanan dimulai. Ini kali pertamannya aku naik bus. Dalam perjalanan bapakku sering sekali meneleponku. Sampai semua orang di bus melihatku. Banyak orang yang bertanya kemana tujuanku. Banyak yang menjelaskanku tentang daerah yang kutuju. Sopir dan kernetnyapun ramah padaku. Sampai di pabrik, aku menelepon bapakku. Bapakku keluar dari pabrik dan menemuiku,memeluk dan meciumku lalu mengajakku makan. Bapakku terlihat seperti menyesal menyuruhku untuk pergi ke Solo, beliau kemudian meminta maaf. Kutenangkan bapakku dan menjelaskan bahwa aku akan baik-baik saja. Tak akan ada hal buruk yang terjadi.
“ini adalah bumi Allah pak. Semua akan baik-baik saja. Allah pasti menjagaku,disampingku ada malaikat-malaikat yang menemani perjalananku.”
Setelah itu aku berpamitan untuk balik ke jombang kerena besok aku harus sekolah. Terlihat kecemasan diwajah bapakku, tapi kemudan aku balas dengan senyuman yang semoga bisa menyejukkan hatinnya. Bapakku membantu untuk mencarikan bis yang lebih baik dari yang kutumpangi pertama. Kemudian aku langsung naik dengan cepat karena memang bis tak mau berhenti lama-lama.
Perjalanan ku sekarang bersama dengan gelapnya langit dan hujan rintik-rintik. Aku duduk di kursi yang seharusnya di isi 3 orang. Aku duduk sendiri di situ. Aku tenang. Tak ada ketakutan dalam diriku. Karena aku beranggapan kalau disebelahku ada 2 malaikat yang menemani dudukku. Di bis aku merenung tentang hari ini. Aku merasakan kasih Allah yang begitu besar padaku. Semua yang terjadi tak ada yang kebetulan. Mulai dari keberangkatanku hingga kepulanganku. Aku selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Allah begitu memperhatikan hamba-Nya,dalam masalah kecilpun ada campur tangan Allah dalam penyelesaiaannya. Perjalananku dihujani dengan ketenangan, tak ada rasa takut atau bingung. Ada kedamaian dalam jiwaku,diamana aku merasa sangat dekat dengan-Nya. Aku merasakan dalam pelukan-nya yang hangat,nyaman dan aman.Allah terima kasih. Engkau selalu bersamaku dan membantuku.
Note : yakinlah bahwa dimanapun ada Allah, jika kita merasa sendiri itu salah. Karena setiap manusia selalu ditemani dengan dua malaikat dan selalu dalam naungan Allah Yang Maha Esa. Ingatlah Allah maka kamu akan merasakan ketenganangan.
Mungkin cerita ini tak rapi dan indah, tapi ku harap ini bisa menginspirasi.
Semoga Allah selalu merahmati kita
Salam hangat,
Aliyah
Ini adalah sebuah cerita yang membuktikan kalau kita tidak pernah sendiri.
Senin, setelah upacara di sekolah aku masuk ke kalas bersama dengan teman-temanku. Siap untuk memulai pelajaran jam pertama yakni matematika. Pak agus memasuki kelas dengan semangatnya seperti biasa. Aku sudah siap dengan materi yang diajarkan walaupun aku belum paham. Tiba-tiba teleponku berdering. Aku lihat ibuku meneleponku,ku coba angkat .
“halo,ada apa ?” tanyaku pada ibu.
“nduk, ATM bapakmu ketinggalan. Tolong hubungi bapakmu ya.”
“iya.”
Ku tutup teleponnya, ku cari nomor bapakku dikontak,ketelepon bapakku.
“hallo bapak, ATM bapak ketinggalan”
“Astagfirullah, bapak sudah sampai di Solo. Kalau bapak kembali ke rumah bisa telat nanti kirim barangnya.”
“gimana pak, bapak bisa pinjam uang teman bapak mungkin ?”
“bapak nggak bisa pinjam uang ke teman,disini nggak ada teman bapak, lagi pula bapak butuh biaya banyak untuk ngirim barang ini. Nggak mungkin kalu pinjam orang.”
“yasudah, ATM nya biar saya yang antar ke Solo.”
“kamu berani ta nduk ?”
“in syaa Allah berani,bapak.”
Setelah itu aku langsung berpamitan kepada pak Agus untuk keluar kelas. Mulai ku urus surat izinku dengan cepat tapi tidak terburu-buru. Agak sulit mengurus surat izinku ini karena memang alasanku yang kurang “mengena”. Akhirnya kudapatkan surat izinku, aku kembali ke kelas untuk mengambil barang-barang ku dan kemudian pulang ke rumah. Sampai dirumah ibuku kaget kenapa aku pulang.
Aku duduk kemudian aku menjelaskannya,ibuku sempat marah karena takut aku kenapa-kenapa. Maklum, seorang ibu pasti tidak tega ketika membiarkan anak perempuannya pergi dari Jombang ke Solo sendirian tanpa ada persiapan apapun. Ibu juga khawatir karena kondisi badanku yang kurang sehat. Tapi aku kuatkan tekat, ini bukan hanya masalah ATM yang ketinggalan, akan ada banyak runtutan maslah yang akan terjadi jika ATM ini tak sampai di tangan bapakku.
Ku kemasi barangku secukupnya, ku cium ibukku dan ku berpamitan padanya. Dalam perjalan ke terminal hatiku sempat takut dan ragu. Aku bingung harus naik bus yang mana,sepedaku titipkan dimana. Ada banyak ketakutan yang menghampiriku. Sampainya diterminal aku dibantu bapak-bapak untuk mengamankan sepedaku. Aku diberi arahan olehnya dimana aku harus naik bus. Kemudian aku berjalan ke halte yang jaraknya cukup jauh, aku belum makan juga pada saat itu. Tapi, rasanya lelah ini menjadi sebuah cambukkan bagiku, kalau ini adalah hal yang kecil, sangat memalukan jika sampai aku mengeluh.
Sampai di halte, aku dibantu lagi dengan bapak tukang becak. Beliau mencarikanku bus yang nyaman. Perjalanan dimulai. Ini kali pertamannya aku naik bus. Dalam perjalanan bapakku sering sekali meneleponku. Sampai semua orang di bus melihatku. Banyak orang yang bertanya kemana tujuanku. Banyak yang menjelaskanku tentang daerah yang kutuju. Sopir dan kernetnyapun ramah padaku. Sampai di pabrik, aku menelepon bapakku. Bapakku keluar dari pabrik dan menemuiku,memeluk dan meciumku lalu mengajakku makan. Bapakku terlihat seperti menyesal menyuruhku untuk pergi ke Solo, beliau kemudian meminta maaf. Kutenangkan bapakku dan menjelaskan bahwa aku akan baik-baik saja. Tak akan ada hal buruk yang terjadi.
“ini adalah bumi Allah pak. Semua akan baik-baik saja. Allah pasti menjagaku,disampingku ada malaikat-malaikat yang menemani perjalananku.”
Setelah itu aku berpamitan untuk balik ke jombang kerena besok aku harus sekolah. Terlihat kecemasan diwajah bapakku, tapi kemudan aku balas dengan senyuman yang semoga bisa menyejukkan hatinnya. Bapakku membantu untuk mencarikan bis yang lebih baik dari yang kutumpangi pertama. Kemudian aku langsung naik dengan cepat karena memang bis tak mau berhenti lama-lama.
Perjalanan ku sekarang bersama dengan gelapnya langit dan hujan rintik-rintik. Aku duduk di kursi yang seharusnya di isi 3 orang. Aku duduk sendiri di situ. Aku tenang. Tak ada ketakutan dalam diriku. Karena aku beranggapan kalau disebelahku ada 2 malaikat yang menemani dudukku. Di bis aku merenung tentang hari ini. Aku merasakan kasih Allah yang begitu besar padaku. Semua yang terjadi tak ada yang kebetulan. Mulai dari keberangkatanku hingga kepulanganku. Aku selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Allah begitu memperhatikan hamba-Nya,dalam masalah kecilpun ada campur tangan Allah dalam penyelesaiaannya. Perjalananku dihujani dengan ketenangan, tak ada rasa takut atau bingung. Ada kedamaian dalam jiwaku,diamana aku merasa sangat dekat dengan-Nya. Aku merasakan dalam pelukan-nya yang hangat,nyaman dan aman.Allah terima kasih. Engkau selalu bersamaku dan membantuku.
Note : yakinlah bahwa dimanapun ada Allah, jika kita merasa sendiri itu salah. Karena setiap manusia selalu ditemani dengan dua malaikat dan selalu dalam naungan Allah Yang Maha Esa. Ingatlah Allah maka kamu akan merasakan ketenganangan.
Mungkin cerita ini tak rapi dan indah, tapi ku harap ini bisa menginspirasi.
Semoga Allah selalu merahmati kita
Salam hangat,
Aliyah
Semoga ALLAH selalu memberikan keberkahan kepada kita semua.. AAMIIN..🙏😊
BalasHapusAamiin. terimakasih sudah berkunjung
Hapus